KEKUASAAN DAN KEHENDAK MUTLAK TUHAN
PENDAHULUAN
Di dalam islam perdebatan menganai ayat-ayat Tuhan, rasanya sudah tidak aneh lagi.Perdebataan ini muncul sejak dahulu dan menjadi sesuatu yang sangat “magnetic” dalam wacana keilmuan Islam sendiri khususnya dalam keilmuan Tafsir. Dalam penafsiran yang dilakukan oleh aliran-aliran yang ada dalam islam terkadang tidak seamanya sepaham melainkan lebih banyak berselih entang meaknai ayat-ayat al-qura’an terutama ayat-ayat mutasyabih.
KEKUASAAN DAN KEHENDAK MUTLAK TUHAN
Tuhan sebagai pencipya alam semesta haruslah mengusai dan mengatur segala sesuatu yang ada, bahkan harusnya melebihi dari segala sesuatau yang ada. Kekuasaannya tidak terbatas dan luas. Sebab tidak ada satu eksistensi yang melampaui dari eksistensi Nya. Dia yang unik dan Esa, tidak ada yang menyamai keluasaan kuasaNya. Ini lah akana umum dalam memahami kekuasaaan dan kehendak tuhan.
Namun, pada kenyataan dalam sejarah perkembangan aliran di islam, terdapat berbagai konsep dan paradigma mengena pemaknaan kekuasaan dan kehendak tuhan. Ini didasarkan karena perdaan menganai kehendak bebas manusia dan sejauh mana kekutan manusia dalam menentkan hidupnnya, sehingga lahirlah berbagai konsep mengenai kehendak dan kekuasan Tuhan yang kahir menimbulkan perdebatan antar berbagi aliran, terutama aliran Mu’tazilah dan Ahl sunnah.
Aliran kalam rasional dalam hal ini mu’tazilah, yang sangat terkenal dengan pengangungan akal, bahwa manusia memiliki kehendak dan kekuasaan yang bebabs untuk menentukan hidupnya. Sedangkan pengertian dan pemakanaan kehendak dan kekuasaan Tuhan tidak lagi diberi artian yang tidak semutlak-mutlaknya, tetapi sudah terbatas,. Keteratasan tersebut terjadi karena janji-janji Tuhan sendiri kepada manusia.
Lebih jelas lagi mu’tazilah menyatakan, “ mu’tazilah mengatakan bahwa sebenarnya kekuasaan Tuhan itu tidak mutlak lagi. Ketidak mutlakan kekuasaan Tuhan itu disebabkan oleh kebebasaan yang diberikan Tuhan kepada manusia, keadilan Tuhan sendirii, adanya kewajiban kewajiban Tuhan terhadapa manusia serta adanya hokum alan ( sunnatulah ) yang menurut al-quran tidak pernah berubah”.1
Dalam hal ini Mu’tazilah mengunakan ayat 62 surat Al – Azhab Allah SWT berfirman;
Artinya ; “ Dan tidak engkau peroleh bagi sunnatullah (hukum alam ) itu berubah–rubah.( Al-Azhab 33 : 62 )
Karenanya, dalam pandangan mu’tazilah kekuasaan kehendak Tuhan berlaku dalam jalur hukum-hukum alam yang berada di alam semesta.Api tidak dapat menghasilkan apa-apa kecuali panas, begitu pula es tidak dapat menghasilkan apa-apa kecuali dingin.sunntulah tersebut tidak mengalami perubaha atas kehendak Tuhan itu sendiri, demikian merupakan batasan bagi kehendak dan kekuasaan Mutlak Tuhan.kebebasan manusia yang diberikan Tuhan baru bermakna kalau Tuhan membatasi kehenda dan kekusaan mutlaknya, demikian pula keadailan Tuhan. Dengan demikaian bila Tuhan melnggar sunatulah yang telah dibuatNya maka Tuhan telah bersifat tidak adil dan zalim.2
Sedangkan bagi ahl sunnah, bahwa manusia tidak mempunyai kehendak dan kebebasaan atas perbuatannya, kekuasaan Tuhan, harus berlaku semutlak-mutlaknya. Ahl sunnah berpendapat bahwa pandangan mu’tazilah tidaklah benar bahwa manusia bebeas sekendak hatinya alam menentukan perbuataannya. Ayat yang dijadikan sandaran Ahl sunnah untuk memperkuat rg ment diatas ialah Al-buruj ayat 16 ;
Artinya: “yang berbuat apa yang dikehendakiNya” ( al-buruj 85;16 ).
Ayat di atas dalam pemahaman ahl sunnah adalah sebagai bukt bahwa kehendak Tuhan itu benar-benar mutlak. Dan kehendak mutlak than musti berlaku jika kehndak dan kekuasaan Tuhan tidak berlaku maka Tuhan bersifat lalai dan lemah untuk melakukan kehendakNya itu. Menurut Ahl sunnah mausia berkehendak stelah Tuhan sendiri menghendaki agar manusia berkehendak.3
Begitulah perdebatan antar Mu’tazilah dan Ahl sunnah mengenai kehendak Tuhan, dengan menyajikan ayat Al-Quran yang dalam pemahanan mereka pemahan masing – masing itu dklaim memeiliki kebenaran danlam menginterpretasikan aa yang dimaksud kehendak Tuhan didalam Al-qur’an.
TUHAN BERSEMAYAM DIATAS ARSY’
Dalam perkembangan ilmu kalam dalam menafsirkan ayat-ayat yang bersifat menjasmanikan Tuhan selalu menjadi wacana yang menarik dan menjadi “buah perdebatan” yang “mengoyak akal” untuk terjerumus kedalamnya. Begitupun, dengan aliran – aliran islam mereka punya penafsiran yang berbeda meganai ayat-ayat tersebut.
Dalam hal ini, yaitu mnegenai Tuhan bersemayam diatas arsy’ sesuai yang ter maktub dam surat Thaha ayat 5 Allah Swt berfirman:
Artinya:” Allah yang Maha Pemurah bersemayam diatas Arsy’”
Mengenai ayat ini kaum salaf, mengatakan,
“……kita ikutilah sajalah mazhab salaf, ketika ditanya orang kepada imam Malik. Apakah artinya yang lebih dalam tentang Tuhan bersemayam diatas Arsy itu, beliau telah menjawab : “ artinya Arsy’ kita semua tahu, arti semayampun kita tahu. Bagaimana arsy’Nya dan bagai mana seayamNya tidaklah kita tahu. Bertanya tentang itupun Haram.””4
Dikarenakan kaum salaf menolak ta’wil, bahkan dalam kitab Dasar-dasar Akidah Para Imam Salaf ditulis jelas sebuah judul “Menolak Takwil.”
Dan salaf sangat mebenci praktik ta’wil yang menggunakan akal, karena takwil ini mengakibatkan kepada peniadaan (isi) nash dan kelancangan terhadap makna dengan menyusupkan ra’yu yang bertujuan merusak syari’ah, menyesatkan orang yang meyakininya dan merapuhkan akidah yang terhunjam kuat di dada serta mengeruhkan akidah yang terang. Takwil yang sahih menurut para salaf ialah yang sesuai dengan apa yang dimaksud oleh nash dan yang dibawa oleh Sunnah, sedang takwil lainnya rusak dan menyimpang.5seperti yang dilakukan oleh Mu’tazilah.
Sementara itu, mufassir Mu’tazilah Imam Zamakhsyari didalam tafsir Al-kasyaf, hamka menulis :
“Tetapi patut juga kita ketahui penfsiran dari penafsir kalangan mu’tazilah, yaitu Jarrullah Al-Zamakhsyari. Dia menulis;” oleh karena bersemayam diatas arsy’, dan artinya arsy’ itu ialah singasana raja, yang kedudukannya itu tidak akan tercapai kalau tidak mempunyai kekeuasaan, maka dijadikanlah dia sebagai kinayah ( perumpamaan ) darikekuasaan mutlaq. Orang yang selalu mengatakan. “ si Anu bersemayam dinegeri Anu”, yang dimaksud ialah bahwa si Anu berkuasa disana, meskipun tidak selalu duduk disingasana itu””.6
Mu’tazilah beranggapan jika ayat atas tidak ditakwil maka akan terjadi tanzih. Apa yang dikatakan kaum salaf itu hanya terpaku pada makan dhohirnya saja. Memang arti bersemayam kita semua tahu seperti yang dikatakan salaf dan memeng diperlukan ta’wil dalam ayat diatas biar tidak terjadi tanzih. Dan berseayam seperti apalagi yang kita pahami memeng itulah makna semayam dan arsy’ .
Dengan ini jelas perbedaan diantara kedua aliran ini.
TENTANG MELIHAT TUHAN
Penolakan Mu’tazilah terhadap kebertubuhan Tuhan sekaligus menegaskan bahwa Tuhan adalah immateri. Karena itu, Tuhan tidak dapat dilihat, baik di dunia maupun di akhirat. Pandangan ini diperkuat dengan dalil al-Qur’an bahwa:
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia mencakup seluruh penglihatan, dan ialah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. al-An’am[6]: 103)
Dari ayat di atas, kalangan Mu’tazilah berargumentasi bahwa sesuatu yang bisa dilihat adalah yang bisa dicapai oleh penglihatan, sementara dalam ayat ini secara tegas Allah menafikan kemampuan indera penglihatan pada Diri-Nya (la tudrakuhu al-abshar). Kelompok Mu’tazilah selanjutnya menolak penafsiran kata nazhirah yang terdapat dalam QS. Al-Qiyamah (75): 22-3 dengan arti ru’yah (melihat), melainkan mengartikannya dengan al-intizhar (menanti), yaitu menanti datangnya pahala dari Tuhan.
Sebaliknya, seiring dengan pandangan Asy’ariyah bahwa Tuhan memiliki sifat kebertubuhan, maka itu berarti Tuhan adalah zat yang dapat dilihat oleh manusia, tetapi Tuhan baru bisa dilihat pada kehidupan akhirat nanti. Hal ini diperkuat oleh dalil al-Qur’an:
“Pada hari kiamat itu, (ada) wajah-wajah (yang) berseri-seri. (Yaitu wajah-wajah yang) melihat kepada Tuhannya”. (Q.S. al-Qiyamah/75: 22-23)
Tentang ayat Q.S. al-An’am[6]: 103 yang menisyaratkan bahwa Tuhan tidak terjangkau oleh penglihatan, bukan berarti “Tuhan tidak dapat dilihat” tetapi menunjukkan bahwa manusia memiliki keterbatasan pada penglihatannya untuk dapat melihat Tuhan. Karena itu, Tuhan baru bisa dilihat di akhirat nanti ketika batasan-batasan keduniawian manusia itu telah hilang.7
KESIMPULAN
Tidak bisa kita pungkiri inilah realita perkembangan penafsiran. Banyak lagi ayat yang menjadi perdebatan antar aliran dalam islam tapi jangan sampai itu menjadi perpecahan internal dan saling membenci antar umat islam sendiri. Jika memang ada aspek positive dari pemikiran – pemikiran yang berada dijalur ke-sekte-an kita kenapa kita harus menolaknnya. Perlu jiwa besar dan kebijaksanaan serta ilmu untuk menerima sebuah kebenaran.walluhu a’lam.
mohon bimbingannya.newbie.